Selasa, 07 Februari 2012

PEMANASAN GLOBAL

Pemanasan global(Inggris: global warming adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.

Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca pada masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas kalor lautan.

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi pada masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.

Efek rumah kaca

Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.
Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan suhu rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dari suhunya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.

Dampak pemanasan global

Para ilmuwan menggunakan model komputer dari suhu, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuwan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia.

Selasa, 24 Januari 2012

Sekolah rusak, siswa belajar bergantian

Sekolah Rusak, Siswa Belajar Bergantian
09/01/2012 12:33
Liputan6.com, Garut: Libur sekolah telah usai, kini saatnya kegiatan belajar mengajar dimulai kembali. Namun sayang, bagi siswa Sekolah Dasar Negeri Mekarsari 03, Garut, Jawa Barat, itu artinya mereka harus kembali was-was karena sekolah mereka nyaris roboh. Siswa pun harus belajar bergantian, bahkan sebagian terpaksa menumpang belajar di rumah warga.


Entah, apakah masih bisa gedung SDN Mekarsari 03 Garut, Jawa Barat, ini disebut sekolah. Dari jauh, lubang besar terlihat menganga. Saat SCTV masuk ke dalam gedung, kondisinya pun lebih memilukan lagi, Senin (9/1).


Bisa dibilang, gedung sekolah ini tinggal rangka belaka. Dinding yang rapuh dan bolong di mana-mana serta atap yang sewaktu-waktu bisa saja roboh tak bersisa. Dan di gedung itulah ratusan anak bangsa menuntut ilmu. Mereka harus belajar dengan rasa cemas.


Kepala Sekolah SDN Mekarsari 03 Salamah menaruh harapan dari semua pihak untuk memperhatikan nasib mereka.


"Kepada semua pihak, kepada orang-orang yang berkompetensi dalam bidang pendidikan, kami berharap tolonglah perhatikan kami yang ada di daerah," ujar Salamah.


Sudah bertahun-tahun gedung ini rusak dan tak kunjung mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan maupun Pemerintah Kabupaten Garut. Padahal nyawa para siswa taruhannya. Beruntung, masih ada masyarakat yang rela meminjamkan rumahnya untuk dipakai belajar.


Nazar, siswa di SD itu mengutarakan, kini mereka menumpang sekolah di rumah warga yang berhati emas. Jika tidak, mereka harus belajar bergantian dengan siswa kelas lain.


"Sekolah kami rusak, makanya kami belajar di sini," ujar Nazar.


"Tiga kelas yang rusak. Satu dua tiga, belajarnya gantian di kelas empat, lima, enam," kata Nazar.(MEL)


Senin, 23 Januari 2012

LMFAO Ke Indonesia


LMFAO Terkesan Keramahan Warga Indonesia
 Kapanlagi.com - Pertama kali tiba di Indonesia, LMFAO mengaku terkesan dengan keramahan Indonesia. Hal ini membuat pengaruh positif dalam dirinya dan menjadi bersemangat.
"Yup ini pertama kali buat kita. Di sini asyik dan orangnya ramah-ramah. Saya sangat bergairah di sini dan fans juga antusias kepada kita. Apa yang mereka berikan akan kami balas secara lebih nanti," papar Redfoo.
Antusias para penonton yang memang mengidolakan LMFAO membuat Redfoo senang. DIa datang jauh-jauh ke sini dan mendapatkan sambutan yang luar biasa. Bahkan dia berencana ingin membuat konser tunggal nantinya.
"Ya tentu, Kami ingin sekali buat world tur keliling dunia," ujarnya saat dijumpai di preskon Java Soulnation hari kedua, Sabtu (24/9).
Duo asal Amerika ini ternyata masih satu keluarga dengan hubungan om dan keponakan. Meski berbeda usia, namun mereka tak canggung untuk menjalankan grup ini. Menurut Redfoo hubungan keluarga malah memudahkannya.
"Kita mudah tuk bekerjasama karena kita keluarga dan saling percaya serta dah kenal sejak lama. Dia tahu apa yang akan saya katakan dan sebaliknya," pungkasnya.  (kpl/ato/faj)